Pengertian Bersuci (Thaharah) dan Dalil-dalilnya
Bersuci dari najis dan hadats merupakan perintah
Allah Swt. yang harus kita laksanakan.
Bersuci juga menjadi
syarat yang harus
dipenuhi sebelum menjalankan
bentuk-bentuk ibadah lainnya,
baik yang fardlu seperti shalat wajib
lima waktu dalam sehari semalam maupun sunnah seperti shalat dua hari
raya.
Tahukah kamu, kepatuhan kita untuk selalu
bersuci sangat besar sekali manfaatnya. Bersuci dapat mencegah
terjangkit dari berbagai penyakit
akut, seperti Penyakit Deman Tyfus, Kolera, Hipatitis B, dan Folio.
Jika mengikuti ketentuan hukum Islam, bersuci
dengan menggunakan air secara tepat termasuk menjaga kelangsungan hidup
manusia, dan ekosistem linkungan hidup. Kata-kata bijak “Air adalah sumber
segala kehidupan” selalu kita ingat sepanjang masa. Penggunaan air secara tepat berarti
menjaga kelangsungan ketersediaan
air bersih. Berlebih-lebihan dalam
bersuci berdampak pada kritis air bersih. Mari kita ingat, 3.800 anak
se-bangsa dan se-tanah air meninggal sia-sia, karena terjangkit berbagai
penyakit akut yang disebabkan kekurangan air bersih.
Pengertian Bersuci
Tahukah
kamu, bersuci dalam
bahasa Arabnya disebut
dengan thaharah (ةراﻬﻄﻟا).
Istilah thaharah dari segi Bahasa berarti membersihkan diri , pakaian, temat
dan benda-benda lain dari najis dan hadast dengan tata cara yang ditentukan
oleh syariat
Islam. Bersuci menempati kedudukan yang
penting dalam ibadah. Setia orang yang akan mengerjakan shalat dan tawaf
diwajibkan terlebih dahulu berthaharah, seperti berwudhu, tayamum atau mandi.
Perbedaan Bersuci dan Membersihkan
Dilihat dari sifat dan pembagiannya bersuci
dapat dibedakan menjadi dua bagian :
1. Bersuci Lahiriyah
Bersuci lahiriyah (hissiyah) yaitu meliputi
kegiatan bersuci dari najis dan hadats. Contoh: membersihkan badan, tempat tinggal,
dan lingkungan dari segala bentuk kotoran atau najis. Bersuci lahiriah ada dua
yaitu
a. Bersuci dari najis adalah berusaha untuk membersihkan segala bentuk
kotoran yang melekat pada badan atau yang ditempati. Cara membersihkan sesuai
dengan bentuk dan jenis kotoran yang dihilangkan, seerti dibasuh sampai hilang
rasa, bau dan warnanya.
b. Bersuci dari hadats adalah
menghilangkan atau membersihkan
hadats dengan cara berwudhu atau mandi. Cara menyucikannya disesuaikan dengan
jenis hadats yang akan dibersihkan.
2. Bersuci Batiniah
Bersuci batiniah adalah membersihkan jiwa dari
kotoran batin berupa dosa dan perbuatan maksiat, seperti syirik, takabur,
hasud, dendam, nifak, dan ria’. Cara membersihkan sifat atau perilaku tercela
ini, adalah dengan bertobat kepada Allah Swt., berjanji tidak mengulangi
perbuatan tersebut, serta mengikutinya dengan perilaku terpuji.
Kesimpulannya adalah,
”bersuci sudah pasti
menyertakan perbuatan
membersihkan diri, tetapi
membersihkan diri belum
tentu termasuk bagian
dari bersuci”.
Dasar Hukum Bersuci
اِنَّ
اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya:
“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan
menyukai orang yang menyucikan diri.”QS. Al-Baqarah (1): 222
b)
Allah Swt. juga berfiman:
فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ
الْمُطَّهِّرِيْنَ
Artinya:
“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah
menyukai orang-orang yang bersih.”QS. Al-Taubah (9): 108.
c) QS. Al-Maidah (5) : 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ
فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا
بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا
فَاطَّهَّرُوْاۗ
“Wahai orang-orang yang
beriman! Apabila kamu
hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu
sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua
mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah”.
Ayat al-Qur’an di atas memiliki kesamaan
kandungan yang sangat erat dengan bersuci. Allah Swt. menyukai orang yang membiasakan dan selalu
membersihkan diri dengan bersuci, baik badannya, pakaian yang melekat pada
tubuhnya, dan lingkungan sekitarnya. Allah Swt. juga memerintahkan agar setiap muslim
menjadi contoh bagi orang lain, baik keberhasihan yang bersifat dhahir maupun
batin.
Kita sudah menemukan kesamaan kandungan, lalu
bisakah kita menemukan perbedaannya? Baca kembali dengan seksama maka kita akan
menemukan ketiga ayat berisikan tentang perintah bersuci secara umum. Namun
ayat yang kedua juga menggambarkan fitrah atau karakter khas manusia yang
sebetulnya memiliki naluri untuk selalu
membersihkan diri melalui
bersuci. Fitrah ini
lah yang membedakan
manusia dengan makhluk hidup
lainnya, seperti binatang yang
terkadang tidak pernah
mandi hingga akhir hayatnya.
Kesimpulan
Bersuci
adalah konsep universal yang memegang peranan penting dalam banyak agama dan
budaya di seluruh dunia. Baik secara fisik maupun spiritual, tindakan bersuci
membantu menjaga kebersihan dan kesucian individu. Dalil-dalil dalam berbagai
agama mendukung praktik bersuci sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan dan
kedekatan dengan hal yang suci.
Demikian
artikel tentang pengertian bersuci, perbedaan bersuci dengan membersihkan dan
dalil-dalil bersuci. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Posting Komentar untuk "Pengertian Bersuci (Thaharah) dan Dalil-dalilnya"