Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maulid Nabi 1448 H di Bagek Gaet: Ketika Kampung Halaman Memanggil Pulang


Bagek Gaet, Pohgading Timur, Pringgabaya, Lombok Timur
— Ada suasana yang berbeda di Kampung Bagek Gaet ketika Rabiul Awal tiba. Kampung halaman seakan memanggil anak-anaknya untuk kembali. Mereka yang sehari-hari bekerja di Mataram, Selong, maupun daerah lainnya, menyempatkan diri pulang untuk berkumpul bersama keluarga dan masyarakat dalam sebuah momentum yang sarat makna: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pada Ahad, 24 Rabi'ul Awal 1448 H bertepatan dengan 6 September 2026.

Masjid Alfalah Bagek Gaet menjadi pusat kegiatan. Sejak sebelum acara dimulai, suasana di sekitar masjid sudah tampak ramai. Para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, perangkat Kecamatan Pringgabaya, perangkat Desa Pohgading Timur, panitia, serta para tamu undangan mulai berdatangan.

Yang menarik, di antara para undangan terdapat banyak warga asli Bagek Gaet yang kini menetap atau bekerja di luar kampung. Mataram dan Selong menjadi tempat mereka mengadu nasib, tetapi ketika Maulid Nabi digelar di kampung halaman, jarak seakan tidak lagi menjadi persoalan.

Mereka pulang.

Bukan sekadar menghadiri sebuah acara keagamaan, tetapi juga untuk kembali merasakan hangatnya kebersamaan di tanah kelahiran.

Masjid Alfalah Dipenuhi Jamaah

Masjid Alfalah tampak penuh. Para tamu undangan menempati tempat yang telah disiapkan, sementara panitia PHBI bersama pengurus masjid sibuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tertib.

Para panitia tampak standby di berbagai sudut, mengatur tempat duduk, menyambut tamu, menyiapkan hidangan hingga memastikan setiap bagian acara berlangsung sebagaimana mestinya.

Semangat gotong royong begitu terasa.

Peringatan Maulid Nabi di Bagek Gaet bukan hanya menjadi kegiatan pengajian, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai generasi. Anak-anak, remaja, orang tua, tokoh masyarakat, hingga warga yang selama ini bekerja jauh dari kampung halaman kembali duduk bersama dalam satu majelis.

Tradisi Dulang yang Menjadi Bagian dari Kebersamaan

Salah satu pemandangan yang membuat suasana Maulid di Bagek Gaet terasa khas adalah tradisi penyajian dulang kepada para tamu undangan.

Masing-masing tamu mendapatkan satu dulang yang berisi aneka jajan tradisional, lengkap dengan minuman kopi. Hidangan tersebut menemani para tamu selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Dulang bukan sekadar tempat menyajikan makanan. Di dalamnya ada simbol kebersamaan, penghormatan kepada tamu, dan semangat berbagi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak.

Menjelang rangkaian acara berakhir, sebelum hidangan nasi disajikan, panitia membagikan kantong plastik kepada para tamu. Isi dulang jajan kemudian dipindahkan ke dalam plastik.

Setelah doa selesai, dulang yang sebelumnya berada di depan masing-masing tamu digeser ke depan. Para panitia kemudian dengan sigap mengambil dulang tersebut dan menggantinya dengan dulang nasi.

Satu tamu, satu dulang nasi.

Para undangan pun menikmati santapan bersama. Ketika acara makan selesai, sisa hidangan nasi kembali dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dibawa pulang sebagai berkat.

Pemandangan sederhana itu justru menjadi salah satu gambaran kuat tentang bagaimana sebuah tradisi mampu menjaga rasa kebersamaan.

Sambutan Masyarakat: Maulid sebagai Momentum Meneladani Rasulullah

Atas nama masyarakat sekaligus panitia PHBI, Maskun, S.Pd. menyampaikan sambutan. Ia mengawali dengan ungkapan syukur kepada Allah SWT dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam sambutannya, Maskun menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan salah satu bentuk ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus momentum untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa umat manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang penuh iman dan petunjuk.

Ia juga menyampaikan sejumlah rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelum acara puncak Maulid.

Kegiatan tersebut antara lain pembacaan Al-Barzanji pada malam 12 Rabiul Awal, berbagai pertandingan dan perlombaan bernuansa Islami, lomba azan, terjemahan Al-Qur'an, busana muslim dan muslimah, lagu Islami, tahfiz, hingga pembagian hadiah dan doorprize kepada masyarakat.

Pada hari pelaksanaan Maulid, panitia juga menggelar pawai yang melibatkan masyarakat. Pawai tersebut mengambil rute dari kawasan perempatan Pohgading Timur dan bergerak menuju Masjid Alfalah.

Kegiatan pagi hari juga diisi dengan agenda sosial dan berbagai persiapan sebelum acara utama.

Menurut Maskun, seluruh rangkaian kegiatan tersebut terlaksana berkat kerja sama masyarakat, PHBI, pengurus masjid, pemuda, serta ibu-ibu yang turut mempersiapkan hidangan.

Ia memberikan penghargaan khusus kepada kaum ibu yang dengan ikhlas menyediakan jajan dan santapan untuk para tamu.

“Terima kasih yang mendalam kepada seluruh masyarakat, dari yang tua hingga para remaja dan anak-anak, yang telah menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW.”

Di bagian akhir sambutannya, Maskun menegaskan tema Maulid tahun ini, yaitu “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Berinteraksi Sosial dengan Sesama Manusia.”

Tema tersebut, menurutnya, memiliki makna yang luas.

Akhlak Rasulullah tidak hanya ditujukan kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada mereka yang berbeda keyakinan dan kepada seluruh alam.

Rasulullah SAW hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Karena itu, Maulid tidak berhenti pada perayaan kelahiran Rasulullah, tetapi harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Pohgading Timur: Pulanglah, Kampung Ini Tetap Milik Kita

Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Desa Pohgading Timur, H. Idris.

Setelah menyampaikan salam, puji syukur dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW, H. Idris mengajak masyarakat untuk terus memperhatikan kondisi sosial di lingkungan desa.

Ia menyampaikan berbagai hal berkaitan dengan pendataan kesejahteraan masyarakat dan pentingnya keterlibatan warga dalam memberikan informasi yang benar kepada pemerintah.

Namun ada satu bagian sambutan yang terasa sangat dekat dengan suasana Maulid hari itu.

H. Idris menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar masyarakat Pohgading Timur yang berada di Mataram, Selong, maupun daerah lainnya yang tetap memberikan perhatian dan berpartisipasi dalam kegiatan Maulid di kampung halaman.

Menurutnya, warga yang tinggal dan bekerja di luar daerah tetap memiliki hubungan yang kuat dengan kampung.

Ia berharap ketika suatu hari mereka memasuki masa pensiun, mereka dapat kembali ke kampung halaman dan terus berkomunikasi serta berkontribusi bagi desa.

Kampung halaman, bagaimanapun, selalu memiliki tempat tersendiri di hati setiap orang yang pernah tumbuh di dalamnya.

TGH. Najamudin: Mengapa Kita Memperingati Maulid?

Puncak kegiatan diisi dengan tausiyah hikmah Maulid yang disampaikan oleh TGH. Najamudin, M.PdI.

Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, TGH. Najamudin mengajak jamaah memahami kembali alasan mengapa umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ia mengingatkan bahwa Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat kepada manusia. Namun di antara nikmat terbesar yang harus disyukuri adalah kehadiran Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Islam.

TGH. Najamudin mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam Surah Yunus ayat 58 tentang karunia dan rahmat Allah yang semestinya disambut dengan kegembiraan dan rasa syukur.

Menurutnya, Rasulullah SAW merupakan rahmat bagi seluruh alam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an.

Karena itu, memperingati Maulid bukan sekadar mengenang tanggal kelahiran Nabi, melainkan menjadi kesempatan untuk kembali mengenal pribadi beliau, mencintai beliau, serta meneladani akhlaknya.

Jamaah juga diajak mengingat bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal menurut riwayat yang masyhur, dan bulan Rabiul Awal menjadi salah satu bulan penting dalam sejarah perjalanan kehidupan Rasulullah SAW.

Majelis yang Dipenuhi Rahmat

TGH. Najamudin kemudian mengingatkan jamaah tentang keutamaan berkumpul di masjid untuk membaca Al-Qur'an, mengingat Allah, membaca selawat dan mempelajari ajaran Rasulullah.

Majelis seperti itu, katanya, bukanlah pertemuan biasa.

Ada ketenangan yang diharapkan hadir di dalamnya. Ada rahmat Allah yang diharapkan menaungi para jamaah. Dan ada para malaikat yang menaungi majelis orang-orang yang berkumpul untuk mengingat Allah dan mempelajari kitab-Nya.

Maka suasana Masjid Alfalah pada hari itu terasa bukan hanya ramai secara fisik.

Ia juga menjadi ruang bertemunya rasa syukur, kecintaan kepada Rasulullah, silaturahmi, dan kerinduan terhadap kampung halaman.

Lebih dari Sekadar Maulid

Jika dilihat sekilas, kegiatan Maulid Nabi di Bagek Gaet mungkin tampak seperti kegiatan keagamaan pada umumnya.

Ada pembacaan selawat, sambutan, tausiyah dan makan bersama.

Namun jika diperhatikan lebih dekat, ada cerita yang jauh lebih besar di baliknya.

Ada anak kampung yang bekerja jauh di Mataram dan Selong, lalu menyempatkan diri pulang.

Ada orang tua yang kembali bertemu dengan anak-anaknya.

Ada pemuda yang bergotong royong menjadi panitia.

Ada ibu-ibu yang menyiapkan jajan dan santapan.

Ada tokoh agama yang memberikan nasihat.

Ada pemerintah desa yang menyampaikan pesan pembangunan dan kehidupan sosial.

Ada dulang yang berpindah dari tangan panitia kepada tamu, kemudian kembali lagi kepada panitia.

Dan ada makanan yang setelah disantap tidak begitu saja menjadi sampah, tetapi dikemas kembali menjadi berkat untuk dibawa pulang.

Semua itu membentuk satu cerita tentang kebersamaan.

Maulid Nabi di Bagek Gaet akhirnya bukan hanya tentang memperingati kelahiran Rasulullah Muhammad SAW.

Ia menjadi momentum untuk menghidupkan kembali hubungan antarsesama, mempererat silaturahmi, menjaga tradisi, memperkuat gotong royong, dan yang paling penting, mengingat kembali pesan besar yang disampaikan dalam tema kegiatan:

meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan seluruh alam.

Hari itu, Masjid Alfalah bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah acara.

Masjid itu menjadi tempat di mana kampung halaman kembali menemukan anak-anaknya.

Dan mungkin, di situlah salah satu makna terdalam dari sebuah Maulid:

bukan hanya mengenang kelahiran seorang Nabi, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang beliau ajarkan di tengah kehidupan kita.

Bagek Gaet pun kembali ramai.

Dulang-dulang terhidang.

Selawat berkumandang.

Nasihat disampaikan.

Makanan dibagikan.

Dan orang-orang yang pernah lahir dan tumbuh di kampung itu kembali duduk bersama, seolah jarak dan kesibukan selama ini tidak pernah memisahkan mereka.

Sebab sejauh apa pun seseorang pergi, kampung halaman selalu punya cara untuk memanggilnya pulang.

Posting Komentar untuk "Maulid Nabi 1448 H di Bagek Gaet: Ketika Kampung Halaman Memanggil Pulang"