Bacaan Niat Puasa Syawal dan Ketentuan Waktunya
Puasa Syawal merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menunaikan puasa Ramadan. Keutamaannya begitu besar, bahkan disebut-sebut sebagai pelengkap pahala puasa satu tahun penuh. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang berusaha menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Namun, sebelum melaksanakan puasa ini, penting untuk memahami bagaimana lafal niatnya serta ketentuan waktunya agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar sesuai tuntunan syariat.
Dalam menjalankan
puasa, niat memiliki peran yang sangat penting. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits Nabi Muhammad SAW, setiap amal ibadah tergantung pada niatnya. Dalam
konteks puasa Syawal, terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama
mengenai cara berniat, khususnya terkait penyebutan jenis puasanya. Lalu,
bagaimana seharusnya niat puasa Syawal diucapkan? Kapan waktu terbaik untuk
melaksanakannya? Simak penjelasannya berikut ini.
Niat merupakan
salah satu rukun puasa dan ibadah lain pada umumnya. Hal ini didasarkan pada
hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu bergantung pada
niat. Saat niat, seseorang di dalam hati mesti menyatakan maksudnya (qashad),
dalam hal ini berpuasa.
Di samping
qashad, seseorang juga menyebutkan status hukum wajib atau sunnah perihal
ibadah yang akan dilakukan. Hal ini disebut ta’arrudh. Sedangkan hal lain yang
mesti diingat saat niat adalah penyebutan nama ibadahnya (ta’yin).
Dalam konteks puasa
sunnah Syawal, ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin. Sebagian ulama menyatakan
bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunnah Syawwal’ saat niat di dalam
batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin.
Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.
(وْلُهُ
نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ (عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ
قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي
اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ
وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ
بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ
نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ
الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ
رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه
Artinya, “Perkataan
‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan
Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan
secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan
nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura,
puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawal
seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut
sudah diatur berdasarkan waktunya.
Tetapi kalau
seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat
keutamaan sunah puasa rawatib tersebut. Hal ini serupa dengan shalat tahiyyatul
masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan
puasanya itu sendiri terlepas apa pun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di
sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar
Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj).
Idealnya puasa
sunah Syawal enam hari itu dilakukan persis setelah hari Raya Idhul Fithri,
yakni pada 2-7 Syawal. Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu,
sekalipun tidak berurutan, tetap mendapat keutamaan puasa Syawal seakan puasa
wajib setahun penuh.
Bahkan orang yang
mengqadha puasa atau menunaikan nadzar puasanya di bulan Syawal tetap mendapat
keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunah Syawal. Saking besarnya
keutamaan puasa ini, seseorang yang berhalangan melaksanakannya di bulan
Syawal, dianjurkan mengqadhanya di bulan lain. Demikian keterangan yang bisa
kita dapatkan di kitab-kitab turats, di antaranya Nihayatuz Zain karya
Syekh Nawawi al-Bantani.
Untuk memantapkan
hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya. Berikut ini lafal
niat puasa Syawal.
نَوَيْتُ
صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma
ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku
berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
Adapun orang yang
mendadak di pagi hari ingin mengamalkan sunnah puasa Syawal, diperbolehkan
baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunnah saat itu juga. Karena
kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.
Untuk puasa sunnah,
niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum,
dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh. Ia juga dianjurkan untuk
melafalkan niat puasa Syawal di siang hari.
Berikut ini
lafalnya dalam bahasa Arab.
نَوَيْتُ
صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma
hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku
berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Akhir kata puasa enam hari di
bulan Syawal merupakan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa. Selain
menjadi penyempurna pahala puasa Ramadan, puasa ini juga memberikan manfaat
spiritual bagi yang menjalankannya. Dalam pelaksanaannya, niat menjadi bagian penting
yang harus diperhatikan, baik saat diniatkan pada malam hari maupun di siang
hari bagi yang baru berkeinginan untuk berpuasa.
Dengan memahami
lafal niat serta ketentuan waktunya, diharapkan umat Islam dapat menjalankan
puasa Syawal dengan lebih khusyuk dan sesuai dengan ajaran yang telah
disampaikan oleh para ulama. Semoga kita semua diberikan kemudahan dalam
mengamalkan ibadah ini dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah
SWT.
Posting Komentar untuk "Bacaan Niat Puasa Syawal dan Ketentuan Waktunya"