Khutbah Idul Fitri 1446 H: Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi
Hari Raya Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan, tetapi juga menjadi momen bagi setiap individu untuk kembali dalam keadaan suci, bebas dari dosa, dengan memperoleh ampunan dari Allah Yang Maha Kuasa. Dalam kehidupan, manusia tidak terlepas dari kesalahan, baik terhadap Allah maupun sesama. Oleh karena itu, Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk mempererat kembali hubungan spiritual dengan Allah serta memperbaiki hubungan sosial dengan sesama.
Khutbah Idul Fitri kali ini berjudul: "Khutbah Idul Fitri 1446 H: Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi." Bagi yang ingin mengunduh dan mencetak naskah khutbah ini, silakan klik tautan bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ
أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا،
وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ
وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ
إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ
الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ
لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ
فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى
السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ
النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Jamaah Shalat Idul Fitri
rahimakumullah
Pagi ini, cahaya matahari dan
alunan takbir membelah langit yang tinggi. Mengiringi syukur yang mengalir
deras dari dalam sanubari. Hari ini, alam semesta bertasbih. Menyaksikan
wajah-wajah yang berseri nan bersih, setelah satu bulan berpuasa karena
Allah, tanpa pamrih.
Setelah satu bulan penuh kita
tempuh jalan kesabaran, kini tibalah saatnya kita merayakan kemenangan dan
keberkahan. Teriring kalimat doa:
جَعَلَنَا اللَّهُ مِنَ الْعَائِدِيْنَ
وَالْفَائِزِيْنَ
“Semoga kita menjadi orang yang
kembali fitri dan terjamin, serta masuk dalam golongan orang-orang muttaqin.”
Di pagi ini, hati-hati yang haus
akan rahmat Allah dipenuhi keceriaan yang mendalam. Dibasuh lautan ampunan dari
Allah, Tuhan semesta alam. Di bawah langit yang bertasbih atas izin ilahi, kita
berkumpul dalam kemenangan sejati. Bukan hanya karena menuntaskan puasa di
bulan yang suci, tetapi karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan
diri jiwa-jiwa yang suci.
Idul Fitri bukan sekadar hari
perayaan. Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian dan berbagai aneka hidangan.
Idul Fitri bukan hanya pergi jalan-jalan menuruti keinginan. Idul Fitri ini
adalah momentum menguatkan tekat baja, menjadi hamba Allah yang patuh pada
perintahNya dan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang Allah
swt.
Idul Fitri adalah tentang hati
yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan
kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang
panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.
Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan.
Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala
dalam setiap langkah kehidupan ini.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ،
وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal
muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Untuk mewujudkan kesucian diri
kita, ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma.
Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan
ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa. Kedua adalah penguatan dimensi
horisontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa
menebar kebaikan dan cinta. Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam
kehidupan kita, maka insyaallah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai
akhir masa.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ
وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya, “Bersegeralah menuju
ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang
disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran ayat 133).
Dilanjutkan dengan:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ
وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Artinya, “(Yaitu) orang-orang
yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang
mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang
lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat Ali Imran ayat
134).
Dari ayat ini kita diingatkan
cara untuk menyucikan jiwa. Langkah pertama untuk meraihnya adalah berdasarkan
ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan
surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas
surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Bentuk ikhtiar meraih
ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan
perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai
untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh.
Semoga semua ini berujung pada
ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barang siapa yang
berpuasa di bulan Ramadhan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah,
maka akan diampuni dosa masa lalunya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ،
وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal
muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Langkah kedua untuk mensucikan
diri adalah sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134. Jika
kita ingin kembali kepada kesucian dan ketakwaan yang kuat, maka kita harus
menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak
hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan
saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.
Kita harus yakin bahwa berbagi
tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi
maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang
kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah
wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah swt dan
akan kembali kepada-Nya.
Hal ini sekaligus menyadarkan
kita bahwa ada hak orang lain di dalamnya, semua bukan milik kita dan tak akan
di bawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan
harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat
kita sudah kembali kepada Allah swt.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ
اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ: مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا
زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ
رَفَعَهُ اللهُ
Artinya, "Dari Abu Hurairah
ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, 'Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan
tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya kepada
saudaranya,)kecuali kemuliaan di dunia dan akhirat, serta tidaklah seseorang
merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya di
dunia dan akhirat'." (HR Muslim).
Ma’asyiral muslimin wal
muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Dalam surat Ali Imran ayat 134,
Allah juga memerintahkan, agar kita senantiasa mengendalikan amarah dan suka
memaafkan kesalahan. Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum pembuktian.
Saat puasa, kita diwajibkan
mengendalikan nafsu amarah yang sering kita lakukan. Kemudian di Hari Idul
Fitri, kita diperintahkan untuk saling memaafkan. Mari semua itu kita lakukan
dengan tulus tanpa kepalsuan. Perkuat silaturahmi untuk mengikat hati kita
sesama penuh kedamaian.
Mari jadikan Idul Fitri kali
ini, Idul Fitri kita yang terbaik bagi kita. Mari kuatkan tekad untuk
senantiasa mempertahankan kesucian ini bersama. Kita tidak tahu apakah kita
akan bisa bertemu dengan Idul Fitri-Idul Fitri di masa selanjutnya. Mari kita saling
memaafkan atas segala dosa yang pernah kita buat pada sesama.
Terutama meminta maaf kepada
kedua orang tua kita, yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang
masih memiliki kedua orang tua. Mereka adalah jimat yang harus terus kita jaga.
Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih
kesuksesan kehidupan di dunia.
Saat ini usia orang tua kita
terus bertambah. Fisik mereka pun semakin lemah. Raih kedua tangan
mereka yang sudah mulai keriput namun penuh dengan berkah. Cium tangan
mereka, peluk erat tubuhnya. Minta maaflah kepada mereka dengan setulus
hati dan jiwa. Percayalah, sesukses apapun kiprah kita di dunia, tidak ada
apa-apanya di hadapan mereka. Merekalah yang telah menjadikan kita mampu meraih
ini semua. Allah Berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ
اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ
اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Artinya, “Tuhanmu telah
memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik
kepada orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan
kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta
ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (Surat Al-Isra’ ayat
23).
Dalam kitab Tafsir Marah Labid
Jilid I, halaman 522, Syekh Nawawi Banten menjelaskan bahwa anak harus
menghormati dan berbakti kepada orang tua.
Beliau mengingatkan bahwa orang
tua telah memberikan kasih sayang dan berkorban tanpa batas dalam mendidik
serta membesarkan anak-anak mereka. Sehingga sebagai anak, kita wajib membalas
kebaikan mereka, meskipun apa yang kita lakukan tidak akan pernah sebanding
dengan pengorbanan yang telah mereka berikan dalam hidup kita.
Berbakti ini tidak hanya saat
mereka hidup di dunia. Bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, bukan
berarti selesai bakti kita kepada mereka. Ziarahi makamnya. Berdoalah
kepada Allah untuk mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahnya. Bukan
harta, jabatan, dan materi dunia yang mereka harapkan dari anak-anaknya.
Namun untaian doa dan kebaikan
para penerusnya yang mereka nanti-nantikan di alam kuburnya. Semoga Allah
swt menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya. Semoga Allah menerima
doa-doa kita untuk orang tua kita. Amin.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ،
وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin wal
muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Demikianlah Khutbah Idul Fitri
kali ini, semoga bisa kita resapi dan kita wujudkan dalam kehidupan kita
sehari-hari. Semoga Allah senantiasa mempertahankan kesucian kita di Hari Raya
Idul Fitri seperti bayi yang terlahir kembali. Amin.
Khutbah II
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ
اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ
أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ
اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ
الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ
بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ
الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ
الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Posting Komentar untuk "Khutbah Idul Fitri 1446 H: Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi"